Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2013

Isi Hatinya Dulu

Klo dahulu menunggu waktu adzan di masjid,

tapi kini menunggu adzan baru ke masjid

 

Klo dahulu meluangkan waktu untuk agama,

tapi kini menunggu waktu luang untuk agama

 

Klo dahulu mencari tempat terdepan tuk dengarkan taklim

tapi kini memcari tempat paling belakang supaya mudah pergi

 

Klo dahulu saling mengingatkan dalam hal agama

tapi kini saling menghardik antar sesama

 

Klo dahulu menargetkan waktu tuk khatamkan Al Quran

tapi kini menunggu ingat tuk membaca Al Quran

 

Klo dahulu niatkan sholat malam sebelum tidur

tapi kini menunggu berita malam sebelum tidur

 

Klo dahulu menangis karena ingat dosa-dosa

tapi kini menangis karena takut tak kebagia rezeki yang padahal tlah ditetapkan

 

Klo dahulu menutup aurat dengan sempurna dengan dalih sunnah

tapi kini menutup aurat semanya dengan dalih ikut mode

 

Klo dahulu pelihara jenggot karena sunnah

tapi kini pelihara jenggot ikut trend artis

 

Klo dahulu menundukkan pandangan tuk menjaga kesucian hati

tapi kini menundukkan kepala tuk melihat area bawah pemakai rok mini

 

Klo dahulu berani menyerukan kepada keimanan tuk menumbuhkan iman dalam hati

tapi kini hanya bisa berkata semoga masih ada iman itu dalam hati

 

Ya Allah yang membolak balikkan hati manusia

tetapkanlah hati ini tuk slalu taat kepadamu...


Minggu, 15 April 2012

Rehat, Renungan, Restart Diri

Bila Hijab Terkoyak

Wahai cermin hati sejati…

Kujaga untuk tetap bersemayam dan putih

Kutundukkan mata, telinga, bibir menghujam terpatri

Hingga ingin kutemui penghambaan diri yang murni

Duhai mata yang melepaskan panah sesaat

Engkaulah pembunuh tak mematikan badan

Duhai pengumbar pandangan tuk pencari nikmat

Tak ada indah kecuali mata hati yang terbeban

Wahai telinga yang menganga mendengar

Tidakkah peka bila suara itu hanya hingar bingar ?!

Wahai pendengar suara malapetaka akhirat !

Bilakah suaraNya lebih elok kau pikat

Duhai bibir yang melontarkan tombak tajam

Engkaulah pemikat sesat sejati yang merayu

Cukuplah berucap hikmah dari fikir yang dalam

Hingga perhitunganmu kelak lebih bermutu

Menengadah, menatapnya, hati ini, berdisir halus

Oh… merekah, indah, namun menyayat, bak pedang menghunus

Ada sesuatu terkoyak, robek, menganga, perih…

Oh… hijabku tersingkap, Astaghfirullah… hatiku pedih..